Senin, 11 Juli 2016

Senja Kesembilan #5

Ima terperanjat mendapati Adin sudah berada tepat di depannya.
"Haduh buk, jam segini sudah bengong mulu."
Yang dipanggil buk, menatap kesal.
"Lagian kamu lama si."


 Adin hanya terkekeh, lantas menyerahkan helm kepada Ima. Ima cekatan memakai helm dan membonceng. "Kamu yang depan gih."
 "Hehe kapan- kapan aja lah. Motor kamu habis diservice kan? Emang mau diservice lagi?" Ima tertawa menggoda. Adin langsung tancap gas.
 "Kita kemana Ma?" Adin menyela diantara deru motor, sedikit berteriak.
 "Ke tempat yang kita pernah pesen mug disana. Masih ingat kan jalannya?"
"Oh iya, masih la."
Sinar mentari menyengat. Jalanan tidak macet, tapi tidak pula lengang, cukup menambah sumpeknya keadaan. Panas dan konspirasi asap.
"Ma?" Adin membuka obrolan.
 Ada hal yang ingin ia tanyakan, yang beberapa hari ini ia tahan, terpaksa disimpan.
 "Iya apa Din?"
 "Setahuku, Bintang pernah ke rumah kan? Buat ngenalin diri ke Bunda?" Akhirnya keluar juga, batin Adin. "Iya." Ima menjawab singkat.
"Ku kira itu proses serius." Ima menyeringai.
"Hehe enggak ko. Cuma mau ngenalin aja, sebagai temenku." Ima tertawa hambar.
 "Tapi setahuku kamu nggak pernah ngenalin temen laki-laki seserius itu ke Bunda." "Dia yang minta buat ngenalin."
 "Oh, ku kira . . ."
"Itu! Depan belok kiri." Ima memotong.
"Iya, tahu." Adin cemberut.
Ima mengamati dari spion dan hanya tertawa. Adin segera mengambil kendali motornya berbelok ke arah kiri, kemudian berjalan lurus 200 meter. Sebuah "Griya Unik", begitu tertulis, menyambut kedatangan mereka, berdua.
#fiktif

0 komentar:

Posting Komentar