Dipeluknya Bunda terkasih. Ima memang berniat untuk menghadap, tapi
bukan untuk waktu yang lama. Sebab hatinya juga perlu didamaikan. Ima
berlahan melangkan, dijinjing tas ransel setianya. Di pelataran rinai
mulai berdentuman bersamaan dengan langit yang mulai menghitam, kala
itu.
"Seharusnya aku memang tak datang." Ima bergumam. Tatapannya terpaku
pada layar laptop yang kian meredup.
"Assalamu'alaykum." Suara ceria itu membuyarkan lamunan Ima. Segeralah
ia membenarkan jilbabnya yang sudah benar itu, lantas bergegas
membukakan pintu.
"Wa'alaykumussalam." Senyum Ima mengembang melihat sosok yang berdiri
dihadapnya, dipeluknya ia erat-erat.
"Adin!"
"Apa kabar kamu?" Senyuman itu masih sama.
"Hahai, alhamdulillah aku baik. Ayo masuk!" Ima merengkuh tangan Adin.
"Ini cemilan buat anak kos." Adin mengulurkan buah tangannya.
"Apaan! Udah pegawai kamu?"
"Kuliah baru juga awal. Yang mungkin itu jadi istrinya pegawai. Haha."
Adin dan Ima tertawa.
Ima bergegas ke dapur, melakukan ritualnya, menyiapkan dua kopi
cappucino dan cemilan. Adin segera duduk di tempat biasanya ia duduk,
bersandar menghadap ke foto itu. Foto ia bersama Ima yang menenteng
piala sambil tersenyum cerah. Adin tersenyum, "Semoga kedatanganku
membuatmu lebih baik."


0 komentar:
Posting Komentar