Senin, 11 Juli 2016

Senja Kesembilan #2

Dipeluknya Bunda terkasih. Ima memang berniat untuk menghadap, tapi bukan untuk waktu yang lama. Sebab hatinya juga perlu didamaikan. Ima berlahan melangkan, dijinjing tas ransel setianya. Di pelataran rinai mulai berdentuman bersamaan dengan langit yang mulai menghitam, kala itu.


"Seharusnya aku memang tak datang." Ima bergumam. Tatapannya terpaku pada layar laptop yang kian meredup. 
"Assalamu'alaykum." Suara ceria itu membuyarkan lamunan Ima. Segeralah ia membenarkan jilbabnya yang sudah benar itu, lantas bergegas membukakan pintu.
"Wa'alaykumussalam." Senyum Ima mengembang melihat sosok yang berdiri dihadapnya, dipeluknya ia erat-erat. 
"Adin!" "Apa kabar kamu?" Senyuman itu masih sama. 
"Hahai, alhamdulillah aku baik. Ayo masuk!" Ima merengkuh tangan Adin. 
"Ini cemilan buat anak kos." Adin mengulurkan buah tangannya. 
"Apaan! Udah pegawai kamu?" 
"Kuliah baru juga awal. Yang mungkin itu jadi istrinya pegawai. Haha." Adin dan Ima tertawa.
 Ima bergegas ke dapur, melakukan ritualnya, menyiapkan dua kopi cappucino dan cemilan. Adin segera duduk di tempat biasanya ia duduk, bersandar menghadap ke foto itu. Foto ia bersama Ima yang menenteng piala sambil tersenyum cerah. Adin tersenyum, "Semoga kedatanganku membuatmu lebih baik."

0 komentar:

Posting Komentar