Ima berjalan perlahan dari dapur, sembari menenteng sebuah nampan.
"Silakan diminum nyonya."
"Iya bik, ayo dikeluarkan semuanya. Masih banyak kan yang di dapur?"
Adin menggoda, Ima hanya nyengir, memperlihatkan gigi tupainya.
Aroma kopi menyisip masuk ke hidung. Saraf reseptor menerima dengan
cepat, disusul dengan suara serutup kopi hangat. Asap kopi berkepul
terbang bersama pikiran mereka yang melayang, menerawang.
"Ima?!" Adin sontak berbicara.
"Iya?"
"Bunda apa kabar? Baik kan?"
"Iye, alhamdulillah baik. Makanya datang ke rumah gih."
"Yee, kalau ke rumah nanti nggak ketemu kamu. Kamu hibernasi mulu di
kosan."
"Hehe." Ima hanya tertawa. Sebab ia tak tahu harus menjawab apa.
"O ya, gimana kuliahmu?"
"Em, baik, alhamdulillah lancar- lancar aja."
"O ya, siapa temen kamu itu? Bintang? Apa kabar?"
"Baik dia." Ima tersenyum simpul yang nyaris menyisakan getir.
Adin
tersadar, barangkali ini yang membuat Ima akhir- akhir ini sedikit
murung.
"Din, besuk temeni aku ke nikahan yuk?"
"Emang kapan Ma?
"Rabu."
"Oke deh, in sya Allah."
Hening tiba- tiba menyapa.
Ima kehabisan kata dan Adin merasa menempuh
jejak yang salah.
"Eh, kamu baik- baik aja kan Ma?"
"Iyalah aku baik." Ima tersenyum.
Adin tahu, mulutnya memang mengembang,
tapi sorot matanya redup.
"Ma, aku tinggal di kosmu sampai Rabu ya?"
"Apaan, emang kamu nggak kuliah?"
"Aku libur satu pekan."
"Yah, oke lah. Bantu bersih- bersih ya?"
"Hahai, iya lah."
#fiktif
skip to main |
skip to sidebar
"Aku seorang guru. Tidak ada keajaiban di dalam pekerjaanku. Aku tidak berjalan di atas air, aku tidak membelah lautan. Aku hanya mencintai anak-anak." -Marva Collins-
Senin, 11 Juli 2016
Diberdayakan oleh Blogger.
Total Pageviews
My Blog List
My Blog List
My Blog List
Snag a button
About Me
- sitiatitah
Followers
Popular Posts
-
Ada satu bagian yang tidak dipublish dan memang sengaja dihilangkan. Barang kali, kepergian, tidak perlu dijelaskan, karena penjelasan hanya...
-
Karena engkau tak kunjung datang nak, jadi saya tuliskan sekarang @Atikah Farhia (datanglah jika sudah tidak sibuk, walaupun itu untuk pelar...
-
Adin memarkirkan motornya dengan apik. Ima turun dengan cekatan, melepas helm dan beranjak masuk ke Griya Unik, Adin membuntuti di belakang....
-
Hai guys ? I'm so sorry belum bisa merutinkan tulisan di blog ini :( Pernah nggak guys terlintas dalam benak kalian "Ngapai...


0 komentar:
Posting Komentar