Senin, 11 Juli 2016

Senja Kesembilan #3

Ima berjalan perlahan dari dapur, sembari menenteng sebuah nampan.
"Silakan diminum nyonya."
"Iya bik, ayo dikeluarkan semuanya. Masih banyak kan yang di dapur?" Adin menggoda, Ima hanya nyengir, memperlihatkan gigi tupainya.



Aroma kopi menyisip masuk ke hidung. Saraf reseptor menerima dengan cepat, disusul dengan suara serutup kopi hangat. Asap kopi berkepul terbang bersama pikiran mereka yang melayang, menerawang.
"Ima?!" Adin sontak berbicara.
"Iya?" "Bunda apa kabar? Baik kan?"
"Iye, alhamdulillah baik. Makanya datang ke rumah gih."
"Yee, kalau ke rumah nanti nggak ketemu kamu. Kamu hibernasi mulu di kosan."
"Hehe." Ima hanya tertawa. Sebab ia tak tahu harus menjawab apa.
"O ya, gimana kuliahmu?"
"Em, baik, alhamdulillah lancar- lancar aja."
"O ya, siapa temen kamu itu? Bintang? Apa kabar?"
"Baik dia." Ima tersenyum simpul yang nyaris menyisakan getir.
Adin tersadar, barangkali ini yang membuat Ima akhir- akhir ini sedikit murung.
"Din, besuk temeni aku ke nikahan yuk?"
"Emang kapan Ma? "Rabu."
"Oke deh, in sya Allah." Hening tiba- tiba menyapa.
Ima kehabisan kata dan Adin merasa menempuh jejak yang salah. "Eh, kamu baik- baik aja kan Ma?" "Iyalah aku baik." Ima tersenyum.
 Adin tahu, mulutnya memang mengembang, tapi sorot matanya redup.
"Ma, aku tinggal di kosmu sampai Rabu ya?"
"Apaan, emang kamu nggak kuliah?"
"Aku libur satu pekan."
"Yah, oke lah. Bantu bersih- bersih ya?"
"Hahai, iya lah."
  #fiktif

0 komentar:

Posting Komentar