Senin, 11 Juli 2016

Senja Kesembilan #4

Selasa menyapa. Rintik hujan yang bersemai pagi tadi mulai menghilang, meninggalkan genangan- genangan air penghias jalan.


Ima keluar dari bilik bacanya. Perpustakaan yang luas membuat Ima tak kunjung bosan untuk menelusuri buah karya di setiap deretnya. Ima melihat jam yang menempel di tangannya, pukul 08.45. Ia bergegas meninggalkan tempat favoritnya menuju pelataran, lantas duduk di kursi tunggu yang menghadap ke jalan raya.
"Ting ting, ting ting." Sebuah pesan diterima. Ima bergegas membukanya. "Ma, aku berangkat dari kosan, kamu tunggu di pinggir halte ya?" Tombol jawab dipencet, "Oke :)" Ima berjalan mendekati gerbang kecil, perlahan mendekati halte. Sebuah memori hadir, Ima menepisnya, tidak bisa.
---
"Gimana persiapan buat bedah bukunya?"
"Alhamdulillah 90 % fix, tinggal cek son doang."
"Alhamdulillah, cek son mah nggak perlu Ma." Senyumnya mengembang dIikuti gerakan melirik jam di tangannya.
"Sudah jam lima, sana buruan pulang. Nanti nggak ada angkot, jalan kaki deh."
 "Iye, baru mau ke halte, kamu malah nongol."
 "Iya, maaf, ya sudah, makasih Ma."
"Iya, sama- sama." Deru motor beranjak pergi.
 "Eh, Bintang!"
"Iya, kenapa Ma?"
 "Nggak papa, nggak jadi." Ima nyengir.
---
 #fiktif

0 komentar:

Posting Komentar