Senin, 25 Juli 2016

Hati yang lelah, untuk siapa kamu lelah?

Kata kata itu saya baca dari postingan mb #Fatimah_AlHumairoh :) yaa, teramat sering lelah melanda, menggerogoti sukma yang kian merapuh diikuti dengan raga yang mulai runtuh, Lelah menyadarkanku, bahwa : berjuang tetaplah sepuah perjuangan, butuh pengorbanan.

Sahabat :)

Sahabat Fillah :) Kecintaanku kepadamu terkadang membuatku bersedih, saat aku menyadari kita berada dalam 'kendaraan' yang berbeda, 

Tentang Belajar untuk (memperoleh) Ilmu atau (menuntut) Nilai :)

Karena engkau tak kunjung datang nak, jadi saya tuliskan sekarang @Atikah Farhia (datanglah jika sudah tidak sibuk, walaupun itu untuk pelarian :v :D )Adakalanya saat kita belajar, tidak cukup rasanya sekedar menerima dan mencerna. Terkadang kita menanyakan banyak hal yang sulit kita jawab dengan sendirinya, dan sayangnya lebih sering kita tidak menemukan jawaban, -membiarkan pertanyaan berkembang biak, beranak bahkan bercicit.

Senja Kesembilan #7 (End)

Ada satu bagian yang tidak dipublish dan memang sengaja dihilangkan. Barang kali, kepergian, tidak perlu dijelaskan, karena penjelasan hanya menumbuhkan harapan, palsu. : D ---

Senja Kesembilan #6

Adin memarkirkan motornya dengan apik. Ima turun dengan cekatan, melepas helm dan beranjak masuk ke Griya Unik, Adin membuntuti di belakang. Seorang laki- laki berperawakan besar dan berambut cepak menyambut ramah.

Senin, 11 Juli 2016

Senja Kesembilan #5

Ima terperanjat mendapati Adin sudah berada tepat di depannya.
"Haduh buk, jam segini sudah bengong mulu."
Yang dipanggil buk, menatap kesal.
"Lagian kamu lama si."

Senja Kesembilan #4

Selasa menyapa. Rintik hujan yang bersemai pagi tadi mulai menghilang, meninggalkan genangan- genangan air penghias jalan.

Senja Kesembilan #3

Ima berjalan perlahan dari dapur, sembari menenteng sebuah nampan.
"Silakan diminum nyonya."
"Iya bik, ayo dikeluarkan semuanya. Masih banyak kan yang di dapur?" Adin menggoda, Ima hanya nyengir, memperlihatkan gigi tupainya.

Senja Kesembilan #2

Dipeluknya Bunda terkasih. Ima memang berniat untuk menghadap, tapi bukan untuk waktu yang lama. Sebab hatinya juga perlu didamaikan. Ima berlahan melangkan, dijinjing tas ransel setianya. Di pelataran rinai mulai berdentuman bersamaan dengan langit yang mulai menghitam, kala itu.

Senja Kesembilan #1

"Seharusnya aku tak datang, sebab kedatangan membawa pengharapan." Ima, seharusnya kau tak datang.