Minggu, 28 Desember 2014

Pertemuam Singkat


Pertemuan Singkat
(Kenangan dengan Darwis Tere Liye)

Bisa dikatakan, hari ini adalah hari spesialku yang kedua setelah hari lahirku. Lihatlah, hari ini, aku melihat, mendengarkan, dan memperhatikan langsung petuah hebat itu, darinya. Dari seorang yang menyebut dirinya bukan motivator, akan tetapi sejatinya ia adalah motivator yang hebat. Dialah penulis hebat berhati tulus, sederhana dan penuh makna. Dialah Darwis Tere Liye.
Kau mungkin tak bisa membayangkan, ia datang dengan pakaian kaos biasa, berpadan celana jins, dan bersepatu cats. Datang, duduk sebentar, mengambil microfhon dan langsung beraksi. Tanpa ada awalan dari moderator!. Aku rasa ia adalah orang yang santai, stylenya yang memperlihatkan ketidak formalan, membuat audiens, termasuk aku,merasa nyaman dan sangat menikmati.
Beberapa kata mulai teruntai darinya. Ia memulai dengan sedikit humornya. Kurasa ia pecinta kisah, hampir 90% pembicaraannya adlah kisah. Kisah yang menakjubkan, yang menjadikan audiens paham dangan apa yang dibicarakan.
Ia berkisah banyak hal, itulah yang kukatakan. Mulai dari kisah yang ia buat sendiri, sampai kisah mengenai kejadian-kejadian menarik dalam kegiatan workshop/ seminar yang ia ikut. Aku akan menceritakan kembali sedikit kisah yang telah ia ceritakan padaku.
“Untuk apa menulis? Maka ketika kita melihat dari sosok- sosok penulis luar biasa, mereka menulis untuk menjadikannya pelita. Dengan tulisan, bisa menjadikan penerang bagi 2/3 bumi ini. Lihat saja seperti Ibnu Taimimah, mereka menulis suatu karya yang sampai saat ini masih terang benderang, tidak padam pelitanya.”
“Untuk apa kita menulis? Untuk punya banyak uang? Boleh saja, coba kita hitung bersama sama, permisalan seorang menuis buku yang dicetak 2x dalam satu tahun, dengan satu kali cetak 5.000 eksemplar, dengan royalti Rp 5.000,00/ buku. Maka 2x 5.000 = 10.000x Rp 5.000,00 = Rp 50.000.000,00 per tahun.”
“Untuk apa kita menulis? Agar terkenal dimana- mana? Boleh saja, dulu saya tidak bisa membayangkan penulis bisa terkenal. Tapi, sekarang kita isa lihat iklan POPMIE itu hampir seluruhnya adlah penulis.”
“Untuk apa kita menulis? Agar bisa keliling Indnesia? Boleh saja, ada teman sesama penulis, ia berkata ia telah menghadiri seminar sebanyak 105 kali selama setahun. Coba bayangkan betapa sibuknya ia.”
“Boleh saja kita menulis untuk ketiga hal tersebut adek. Tapi perlu diketahui, dengan kedua hal tersebut tidak cukup untuk menerangi 2/3 bumi ini. Bisa jadi, setelah kita menulis dan mendapatkan uang kita berhenti untuk menulis. Bisa jadi, setelah kita menulis dan mendapatkan ketenaran kita berhenti menulis. Bisa jadi, setelah kita bisa keliling Indonesia kita akan berhenti menulis. Hal-hal seperti itu tidak akan pernah cukup untuk menyinari 2/3 bumi ini, tidak akan pernah cukup. ”
“Lantas ketika adek- adek bertanya untuk apa bang Tere menulis? Maka abang akan menceritakan sebuah kisah yang semoga adek paham akan ceritanya.”
“Pada zaman bumi masih muda, hiduplah tiga makhluk yang bersahabat, yaitu seekor burung pipit, seekor penyu, dan sebatang pohon kelapa. Mereka hodup di pantai yang ombaknya sangat indah. Singkat cerita, mereka berpisah dalam selama beberapa tahun, dan kemudian mereka bertemu kembali di pantai tersebut.”
“Mereka pun berkumpul dan bercerita. Saat itu burung pipit diminta yang pertama bercerita. “Hai Pipit lama tidak bertemu, apa saja yang telah engkau lakukan?”, burng pipit pun menjawab, “Aku pergi ke pulau seberang, disana ada pemandangan yang indah sekali, ada sawah yang hijau, pematang sawah yang hijau.”. Pohon kelapa pun berkata, “ Wow pipit, ceritamu keren sekali.”
“Kemudian yang kedua penyu diminta untuk bercerita. “Hai penyukau lama sekali tidak kelihatan, apa saja yang kau lakukan?”, penyu pun menjawab, “Aku pergi berenang kebenua sebelah, disana orang dengan bermacam- macam rupanya, ada yang bermata hijau, ada yang berkulit hitam, berkulit putih, sangat beraneka ragam.” Pipit pun berkata, “Ceritamu hebat sekali”, dan pohon kelapa berkata, “Wow pipit, ceritamu lebih hebat!”
“Kemudian yang terakhir diminta untuk bercerita adalah pohon kelapa. Siapalah phon kelapa  ini? Ia bukan buerun pipit yang bisa terbang, ia bukan pula penyu yang bisa berenang, bahkan ngesotpun ia tak bisa. Kemudian Pohon Kelapa bercerita, “Aku hanya berdiam diri, melihat perahu datang dan pergi, tapi setiap aku berbuah, buah itu jatuh dan pergi dibawa ombak, aku tidak pernah tahu dimana kelapa itu akan tumbuh.” Kemudian Pipit berkata, “Pantas saja, aku melihat pohon yang sama dengan engkau dipulau seberang. Cerita kamu hebat sekali.” Kemudian Penyu juga berkata, “Pantas saja, aku juga melihat pohon yang sama dengan engkau dibenua seberang. Mungkin ia dari buahmu. Wow, ceritamu sangat hebat.”
“Mengapa saya menulis? Karena saya ingin menyebar buah kebaikan, tanpa saya tahu dibumi belahan manakah dan siapakah yang akan menuai buah kebaikan ini. Saya hanya ingin membaginya. Maka dunia ini teramat adil dek, pohon kelapa yang tidak bisa bergeser sesenti pun, ia tetap bisa melakukan hal- hal hebat.” 
Kisah yang luar biasa bukan? Teramat hebat, dan masih banyak kisah-kisah hebat yang ia sampaikan.Teramat indah bukan? Aku menjadi termotivasi seperti halnya yang bang Tere lakukan. Menulis untuk menyebar buah kebaiakan. Menjadi the agent of revolutioner.
Dikata indah, terlalu indah, dikata buruk, tidak ada buruknya sama sekali, ya itulah temuanku. Pertemuan  7.200 detik yang menakjubkan. Walaupun boleh dikatakan, ia sedikitpun tak mengenal aku, dan sepertinya tak sedikitpun ingin tahu. Tapi, memang beginilah aku, aku yang datang dengan ketidak tenaranku, sebagai orang biasa sebagai hamba sahaya.
Ada banyak petuah yang ia sampaikan. Tapi ada satu kalimat yang menohokku. Ia berkata, “Berjanjilah menulis 1000 kata/ hari !”. Aku berharap bisa melakukannya, teramat sangat.
Sesampai dirumah, aku menceritakan banyak hal pada ibuku, dan tahukah engkau apa yang beliau katakan? Beliau mengatakan, “Engkau akan menjadi lebih hebat dari Tere Liye !”. Aku mengamininya, walaupun kumerasa ini kalimat menohok yang kedua.
Darwis Tere Liye mengatakan, “Ada banyak orang yang mengikuti workshop/ seminar berjanji untuk menulis, akan tetapi banyak orang yang melupakan jajinya.”. Lantas apakah aku termasuk didalamnya? Itu sangat tidak menjadi harapanku, semoga begitulah kenyataannya. Aku akan berusaha, itulah yang kutahu.
Ada hal lain yang kutahu lagi. Ada banyak godaan yang menunggu,  bahkan ada yang sengaja menghampiriku, karena ia tak sabar lagi menungguku. Andai aku boleh meminta pada Yang Kuasa dan alam yang ada pada genggaman-Nya, “Izinkan, izinkanlah aku hanya fokus pada hal-hal terhebatku.” Tapi, lihatlah, aku hanyalah remaja, remaja yang berharap dapat meresakan apa yang dirasakan remaja pada uumnya.
Tapi, setidaknya pertemuan nimeneguhkanku, aku harus menjadi remaja yang berbeda, yang luar biasa! Ya Allah aku bersykur atas hari ini, atas keindahan yang Engkau beri.

Sawangan, 7 Desember 2014

0 komentar:

Posting Komentar