Pertemuan
Singkat
(Kenangan
dengan Darwis Tere Liye)
Bisa dikatakan, hari
ini adalah hari spesialku yang kedua setelah hari lahirku. Lihatlah, hari ini,
aku melihat, mendengarkan, dan memperhatikan langsung petuah hebat itu,
darinya. Dari seorang yang menyebut dirinya bukan motivator, akan tetapi sejatinya
ia adalah motivator yang hebat. Dialah penulis hebat berhati tulus, sederhana
dan penuh makna. Dialah Darwis Tere Liye.
Kau mungkin tak bisa
membayangkan, ia datang dengan pakaian kaos biasa, berpadan celana jins, dan
bersepatu cats. Datang, duduk sebentar, mengambil microfhon dan langsung
beraksi. Tanpa ada awalan dari moderator!. Aku rasa ia adalah orang yang
santai, stylenya yang memperlihatkan
ketidak formalan, membuat audiens, termasuk aku,merasa nyaman dan sangat
menikmati.
Beberapa kata mulai
teruntai darinya. Ia memulai dengan sedikit humornya. Kurasa ia pecinta kisah,
hampir 90% pembicaraannya adlah kisah. Kisah yang menakjubkan, yang menjadikan
audiens paham dangan apa yang dibicarakan.
Ia berkisah banyak hal,
itulah yang kukatakan. Mulai dari kisah yang ia buat sendiri, sampai kisah
mengenai kejadian-kejadian menarik dalam kegiatan workshop/ seminar yang ia
ikut. Aku akan menceritakan kembali sedikit kisah yang telah ia ceritakan
padaku.
“Untuk apa menulis?
Maka ketika kita melihat dari sosok- sosok penulis luar biasa, mereka menulis
untuk menjadikannya pelita. Dengan tulisan, bisa menjadikan penerang bagi 2/3
bumi ini. Lihat saja seperti Ibnu Taimimah, mereka menulis suatu karya yang
sampai saat ini masih terang benderang, tidak padam pelitanya.”
“Untuk apa kita
menulis? Untuk punya banyak uang? Boleh saja, coba kita hitung bersama sama,
permisalan seorang menuis buku yang dicetak 2x dalam satu tahun, dengan satu
kali cetak 5.000 eksemplar, dengan royalti Rp 5.000,00/ buku. Maka 2x 5.000 =
10.000x Rp 5.000,00 = Rp 50.000.000,00 per tahun.”
“Untuk apa kita
menulis? Agar terkenal dimana- mana? Boleh saja, dulu saya tidak bisa
membayangkan penulis bisa terkenal. Tapi, sekarang kita isa lihat iklan POPMIE
itu hampir seluruhnya adlah penulis.”
“Untuk apa kita
menulis? Agar bisa keliling Indnesia? Boleh saja, ada teman sesama penulis, ia
berkata ia telah menghadiri seminar sebanyak 105 kali selama setahun. Coba
bayangkan betapa sibuknya ia.”
“Boleh saja kita
menulis untuk ketiga hal tersebut adek. Tapi perlu diketahui, dengan kedua hal
tersebut tidak cukup untuk menerangi 2/3 bumi ini. Bisa jadi, setelah kita
menulis dan mendapatkan uang kita berhenti untuk menulis. Bisa jadi, setelah
kita menulis dan mendapatkan ketenaran kita berhenti menulis. Bisa jadi,
setelah kita bisa keliling Indonesia kita akan berhenti menulis. Hal-hal
seperti itu tidak akan pernah cukup untuk menyinari 2/3 bumi ini, tidak akan
pernah cukup. ”
“Lantas ketika adek-
adek bertanya untuk apa bang Tere menulis? Maka abang akan menceritakan sebuah
kisah yang semoga adek paham akan ceritanya.”
“Pada zaman bumi masih
muda, hiduplah tiga makhluk yang bersahabat, yaitu seekor burung pipit, seekor
penyu, dan sebatang pohon kelapa. Mereka hodup di pantai yang ombaknya sangat
indah. Singkat cerita, mereka berpisah dalam selama beberapa tahun, dan
kemudian mereka bertemu kembali di pantai tersebut.”
“Mereka pun berkumpul
dan bercerita. Saat itu burung pipit diminta yang pertama bercerita. “Hai Pipit
lama tidak bertemu, apa saja yang telah engkau lakukan?”, burng pipit pun
menjawab, “Aku pergi ke pulau seberang, disana ada pemandangan yang indah
sekali, ada sawah yang hijau, pematang sawah yang hijau.”. Pohon kelapa pun
berkata, “ Wow pipit, ceritamu keren sekali.”
“Kemudian yang kedua
penyu diminta untuk bercerita. “Hai penyukau lama sekali tidak kelihatan, apa
saja yang kau lakukan?”, penyu pun menjawab, “Aku pergi berenang kebenua
sebelah, disana orang dengan bermacam- macam rupanya, ada yang bermata hijau,
ada yang berkulit hitam, berkulit putih, sangat beraneka ragam.” Pipit pun
berkata, “Ceritamu hebat sekali”, dan pohon kelapa berkata, “Wow pipit,
ceritamu lebih hebat!”
“Kemudian yang terakhir
diminta untuk bercerita adalah pohon kelapa. Siapalah phon kelapa ini? Ia bukan buerun pipit yang bisa terbang,
ia bukan pula penyu yang bisa berenang, bahkan ngesotpun ia tak bisa. Kemudian
Pohon Kelapa bercerita, “Aku hanya berdiam diri, melihat perahu datang dan
pergi, tapi setiap aku berbuah, buah itu jatuh dan pergi dibawa ombak, aku
tidak pernah tahu dimana kelapa itu akan tumbuh.” Kemudian Pipit berkata,
“Pantas saja, aku melihat pohon yang sama dengan engkau dipulau seberang.
Cerita kamu hebat sekali.” Kemudian Penyu juga berkata, “Pantas saja, aku juga
melihat pohon yang sama dengan engkau dibenua seberang. Mungkin ia dari buahmu.
Wow, ceritamu sangat hebat.”
“Mengapa saya menulis?
Karena saya ingin menyebar buah kebaikan, tanpa saya tahu dibumi belahan
manakah dan siapakah yang akan menuai buah kebaikan ini. Saya hanya ingin
membaginya. Maka dunia ini teramat adil dek, pohon kelapa yang tidak bisa
bergeser sesenti pun, ia tetap bisa melakukan hal- hal hebat.”
Kisah yang luar biasa
bukan? Teramat hebat, dan masih banyak kisah-kisah hebat yang ia
sampaikan.Teramat indah bukan? Aku menjadi termotivasi seperti halnya yang bang
Tere lakukan. Menulis untuk menyebar buah kebaiakan. Menjadi the agent of
revolutioner.
Dikata indah, terlalu
indah, dikata buruk, tidak ada buruknya sama sekali, ya itulah temuanku. Pertemuan
7.200 detik yang menakjubkan. Walaupun
boleh dikatakan, ia sedikitpun tak mengenal aku, dan sepertinya tak sedikitpun
ingin tahu. Tapi, memang beginilah aku, aku yang datang dengan ketidak
tenaranku, sebagai orang biasa sebagai hamba sahaya.
Ada banyak petuah yang
ia sampaikan. Tapi ada satu kalimat yang menohokku. Ia berkata, “Berjanjilah
menulis 1000 kata/ hari !”. Aku berharap bisa melakukannya, teramat sangat.
Sesampai dirumah, aku
menceritakan banyak hal pada ibuku, dan tahukah engkau apa yang beliau katakan?
Beliau mengatakan, “Engkau akan menjadi lebih hebat dari Tere Liye !”. Aku
mengamininya, walaupun kumerasa ini kalimat menohok yang kedua.
Darwis Tere Liye
mengatakan, “Ada banyak orang yang mengikuti workshop/ seminar berjanji untuk
menulis, akan tetapi banyak orang yang melupakan jajinya.”. Lantas apakah aku
termasuk didalamnya? Itu sangat tidak menjadi harapanku, semoga begitulah
kenyataannya. Aku akan berusaha, itulah yang kutahu.
Ada hal lain yang
kutahu lagi. Ada banyak godaan yang menunggu,
bahkan ada yang sengaja menghampiriku, karena ia tak sabar lagi
menungguku. Andai aku boleh meminta pada Yang Kuasa dan alam yang ada pada
genggaman-Nya, “Izinkan, izinkanlah aku hanya fokus pada hal-hal terhebatku.”
Tapi, lihatlah, aku hanyalah remaja, remaja yang berharap dapat meresakan apa
yang dirasakan remaja pada uumnya.
Tapi, setidaknya
pertemuan nimeneguhkanku, aku harus menjadi remaja yang berbeda, yang luar
biasa! Ya Allah aku bersykur atas hari ini, atas keindahan yang Engkau beri.
Sawangan, 7 Desember
2014


0 komentar:
Posting Komentar